Artikel

JEJAK KERAJAAN INDRAPRAHASTA DI LERENG GUNUNG CIREMAI DAN BEBERAPA NAMA KERAJAAN DI TANAH SUNDA PADA SEJAMANNYA

×

JEJAK KERAJAAN INDRAPRAHASTA DI LERENG GUNUNG CIREMAI DAN BEBERAPA NAMA KERAJAAN DI TANAH SUNDA PADA SEJAMANNYA

Sebarkan artikel ini


oleh : Kang Oos Supyadin, Pemerhati Kesejarahan & Budaya

Terbukti tanah Sunda telah mencatat begitu banyak kerajaan kuno yang tentunya menjadi kekayaan sejarah kerajaan di Nusantara yang memang telah ada sejak dulu kala. Salah satu kerajaan yang kerap disebutkan sebagai kerajaan tertua adalah Kerajaan Salakanagara. Klaim kerajaan tertua milik Salakanagara, tertuang dalam Pustaka Rajnyarajya i Bhumi Nusantara dan Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa. Pustaka ini merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta yang diperkirakan dibuat pada tahun 1.600-an. Selain Salakanagara juga tercatat ada Tarumanagara, Agrabinta, Malabar dan Indraprahasta.

Sekitar 17 abad yang lalu tepatnya tahun 285 Saka atau 363 Masehi di lereng Gunung Ciremai atau kini dikenalnya sebagai Cirebon Girang pernah berdiri suatu kerajaan yang tumbuh berbarengan dengan munculnya Tarumanagara yakni Kerajaan Indraprahasta, yang didirikan oleh Maharesi Santanu sekaligus sebagai raja pertamanya. Maharesi Santanu adalah menantu dari Dewawarman VIII raja Salakanagara karena menikahi salah satu putrinya yaitu Dewi Indari sehingga kedudukan Indraprahasta pada saat itu menjadi bawahan dari Salakanagara.

Salakanagara yang beribukota Rajatapura berlokasi di sekitar Pulasari, Pandeglang ini yang dinisbahkan sebagai ‘Argyre’ atau kota perak yang terdapat dalam catatan Claudius Ptolomeus, orang Yunani ahli geografi dari Aleksandria. Dalam bukunya, Geographia (tahun 150 Masehi) tercatat; “Di sebelah timur ada Iabadiou yang subur serta menghasilkan emas. Di ujung barat Iabadiou terletak kota Argyre. Iabadiou dapat ditempuh setelah melewati 5 pulau Barousai dan 3 pulau Sabadibai.” Yang dimaksud Iabadiou oleh Ptolemeus adalah Yawadiwu (bahasa Parkit) atau Yawadwipa (bahasa Sansekerta). Sedangkan Argyre yang berarti kota perak sama maknanya dengan Rajatapura.

Daftar nama raja-raja Kerajaan Salakanagara atau yang dikenal dengan sebutan Dinasti Dewawarman sebagai berikut :

1. Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara yang memerintah dari tahun 130 M hingga 168 M (38 tahun).

2. Dewawarman II dengan nama Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra yang memerintah dari tahun 168 M – 195 M (27 tahun).

3. Dewawarman II dengan gelar Sangasagara Bimayasawirya yang memerintah dari tahun 195 M – 238 M (43 tahun).

4. Dewawarman IV, aslinya merupakan Raja Ujung Kulon yang bernama Darma Satyanagara. Ia menikahi putri Dewawarman III, yaitu Tirta Lengkara dan memerintah dari tahun 238 M – 252 M (14 tahun).

5. Dewawarman V yang bernama Darmastayajaya, ia menikahi putri sulung Dewawarman IV yaitu, Mahisasuramardini Warmandewi dan memerintah dari tahun 252 M – 276 M (24 tahun. Ia juga dikenal sebagai Sang Mokteng Samudera (mendiang di lautan).

6. Dewawarman V juga merupakan Senapati Sarwajala (panglima Angkatan Laut). Sayangnya, ia gugur pada saat menghadapi perompak karena dipanah dari belakang. Oleh sebab itu, kekuasaannya dilanjutkan oleh istrinya dari tahun 276 M – 289 M.

7. Dewawarman VI dengan nama Prabu Ganayanadewa yang memerintah dari tahun 289 M – 308 M.

8. Dewawarman VII dengan gelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati dan memerintah dari tahun 308 M – 340 M.

9. Rani (Ratu) Salakanagara, putri sulung dari Dewawarman VII dengan nama Spatikarnawa Warmandewi yang memerintah dari tahun 340 M – 348 M (8 tahun). Ia melepaskan tahtanya saat menikah dengan Dewawarman VII.

10. Dewawarman VIII, raja dengan gelar Prabu Darmawirya Dewawarman yang memerintah dari tahun 348 M – 363 M (15 tahun). Di bawah pemerintahannya, Salakanagara berada pada masa jayanya.

Dewawarman VIII dianggap sebagai raja terakhir dari kerajaan ini karena putra bungsunya yang menjadi Dewawarman IX telah menjadi raja bawahan Tarumanegara karena kerajaan tersebut menjadi besar dan kuat.

Masa kejayaan dari Salakanagara terjadi di bawah pemerintahan Dewawarman VIII atau raja terakhir yang memerintah. Majunya kerajaan ini tercermin melalui negara yang subur dan makmur serta kehidupan keagamaan yang maju. Kemajuan keagamaan pada Salakanagara ditunjukkan oleh para rakyatnya yang menganut agama Wisnu, memuja Siwa, memuja Ganesha, memuja Siwa Wishnu. Namun, rakyat Salakanagara paling banyak melakukan pemujaan kepada Ganesha atau Ganapati.

Meskipun Salakanagara tidak meninggalkan peninggalan fisik seperti candi atau prasasti, jejak kekuasaannya dianggap sebagai fondasi awal bagi kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Pajajaran, Sriwijaya, dan Majapahit.

Pendiri kerajaan Indraprahasta, Maharesi Santanu adalah seorang pendeta Syiwa yang asalnya dari kawasan sungai Gangga. Datang ke Jawa Barat sebagai pengungsi dari kerajaan Calankayana untuk menyelamatkan diri dari gempuran pasukan kerajaan Samudra Gupta Maurya yang sedang berperang di India. Sang Maharesi Santanu masih ada hubungan kekeluargaan dengan Sang Prabu Darmawirya Dewawarman VIII sehingga diijinkan mendirikan desa di wilayah Salakanagara.

Maharesi Santanu kemudian mendirikan desa di ujung timur Salakanagara di tepi sungai Cirebon, yang diberi nama desa Indraprahasta. Gunung Ciremai yang ada di wilayahnya dinamakan gunung Indrakila. Sungai yang mengalir di desanya dinamakan Gangganadi. Di salah satu bagian aliran sungai Cirebon itu diperluas dan diperdalam sehingga menyerupai telaga yang oleh penduduk Indraprahasta disebut Setu Gangga. Desa Indraprahasta lama-kelamaan mekar menjadi kota sehingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan.

Maharesi Santanu memerintah di Indraprahasta sebagai raja yang pertama dari tahun 285 – 320 saka atau 363 – 398 M dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana. Selanjutnya Indraprahasta dipimpin oleh putra sulungnya dari permaisuri Indari yaitu Jayasatyanagara dari tahun 320 – 343 saka atau 398 – 421 M. Pada masa kepemimpinannya, pada tahun 399 M Jayasatyanagara tunduk menyerah pada kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman sehingga Indraprahasta menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara. Permaisurinya adalah Ratnamanik putri dari Wisnubumi raja kerajaan Malabar di kaki gunung Malabar (kabupaten Bandung saat ini).

Putra Jayasatyanagara yang menjadi raja Indraprahasta ketiga adalah Wiryabanyu yang memerintah dari tahun 343 – 366 saka atau 421 – 444 M. Permaisurinya adalah Nilem Sari putri dari kerajaan Manukrawa (bisa jadi persisnya di tepi sungai Cimanuk, atau mungkin saja yang disebut Pamanukan sekarang ini). Di masa pemerintahannya, Wiryabanyu membantu Wisnuwarman putra dari Purnawarman raja Tarumanagara menumpas pemberontakan Candrawarman pada tahun 437 M sehingga atas keberhasilannya, putri Wiryabanyu yaitu Suklawati diperistri oleh Wisnuwarman dan prajurit-prajurit Indraprahasta dipakai sebagai pasukan bayangkara Tarumanagara. Putra Wiryabanyu yang lain yakni Warna Dewaji melanjutkan kepemimpinannya sebagai raja Indraprahasta keempat sejak tahun 366 – 393 saka atau 444 – 471 M.

Anak Warna Dewaji yang menduduki tahta Indraprahasta kelima adalah Raksahariwangsa yang memerintah mulai tahun 393 – 429 saka atau 471 – 507 M dengan abhiseka Prabu Raksahariwangsa Jayabhuwana. Yang menjadi permaisurinya putri dari raja Sanggarung dan memiliki putri yang bernama Dewi Rasmi. Dewi Rasmi bersuamikan Tirtamanggala putra kedua dari raja Agrabinta. Sepeninggal Raksahariwangsa, pada tahun 429 – 448 saka atau 507 – 526 M yang berkuasa di Indraprahasta adalah Dewi Rasmi bersama suaminya yang bergelar Prabu Tirtamanggala Darmagiriswara. Putranya dua orang yakni Astadewa dan Jayagranagara. Kemudian Astadewa mewarisi tahta Indraprahasta ketujuh sejak tahun 448 – 462 saka atau 526 – 540 M dan berputra Rajaresi Padmayasa.

Setelah empat belas tahun memerintah, kedudukan Astadewa digantikan oleh adiknya yaitu Jayagranagara sebagai raja Indraprahasta kedelapan yang berkuasa dari tahun 462 – 468 saka atau 540 – 545 M. Hanya lima tahun berkuasa, tahta turun ke keponakannya, Rajaresi Padmayasa putra dari Astadewa. Masa pemerintahannya sebagai raja Indraprahasta kesembilan berlangsung cukup lama, sejak tahun 468 – 512 saka atau 545 – 589 M dan berputrakan Andabuwana. Andabuwana juga berkuasa cukup lama, menggantikan posisi ayahnya menjadi raja Indraprahasta kesepuluh semenjak tahun 512 – 558 saka atau 589 – 635 M. Tahta Indraprahasta kesebelas turun ke putranya yang bernama Wisnumurti mulai tahun 558 – 583 saka atau 635 – 660 M.

Putrinya Wisnumurti yang bernama Dewi Ganggasari diperistri oleh Linggawarman, raja Tarumanagara yang keduabelas. Sedangkan putranya, saudara Dewi Ganggasari yang bernama Tunggulnagara diangkat sebagai penerus Wisnumurti untuk menduduki jabatan raja Indraprahasta keduabelas sejak tahun 583 – 629 saka atau 660 – 706 M. Putranya, dengan gelar Resiguru Padmahariwangsa menjadi raja Indraprahasta ketigabelas menggantikan kedudukan Tunggulnagara mulai tahun 629 – 641 saka atau 706 – 718 M. Anak-anak Padmahariwangsa yaitu, Citrakirana yang diperistri oleh Purbasora, lalu Wiratara yang meneruskan tahta Indraprahasta dan Ganggakirana yang suaminya menjadi Adipati Kusala dari kerajaan Wanagiri bawahan Indraprahasta.

Raja Indraprahasta keempatbelas dan yang terakhir adalah Wiratara yang bergelar Prabu Wiratara dan memerintah dari tahun 641 – 645 saka atau 718 – 723 M. Prabu Wirataralah yang membantu dan mensponsori Purbasora untuk merebut kekuasaan Galuh dari Prabu Sena. Sehingga pada tahun 645 saka atau 723 masehi, Sanjaya pendiri kerajaan Mataram Kuno putra dari Prabu Sena yang beribukan Sannaha menuntut balas atas kematian ayahnya. Setelah Galuh diobrak-abrik dan ditaklukan, Sanjaya memutuskan untuk menumpas juga para pendukung Purbasora terutama Indraprahasta. Pada tahun ini Indraprahasta diserbu oleh Sanjaya sehingga Indraprahasta yang didirikan sejak jaman Tarumanagara akhirnya diratakan dengan tanah seolah tidak pernah ada kerajaan di Cirebon Girang. ” Indraprahasta sirna ing bhumi.”

Prabu Wiratara, raja Indraprahasta keempat-belas gugur di medan perang, keluarganya tewas binasa semua. Kerajaan warisan Sang Maharesi Santanu yang didirikan tahun 363 Masehi lenyap. Kedudukannya sebagai Dharmasima (negara mereka yang dilindungi sebagai negeri nenek moyang) telah berakhir.

Bekas wilayah Indraprahasta oleh Sanjaya dipasrahkan kepada Adipati Kusala, Raja Wanagiri, menantu Sang Rajaresi Padmahariwangsa, suaminya Ganggakirana. Kerajaan Wanagiri yang menjadi pengganti kerajaan Indraprahasta menjadi bawahan kerajaan Galuh. (Abad ke-15 Masehi, kerajaan Wanagiri menjadi Kerajaan Cirebon Girang).

Kerajaan Indraprahasta didirikan oleh seorang resi dan banyak pula raja-raja penerusnya merangkap sebagai resi atau guru. Begitu pula Kerajaan Cirebon Islam (saya mengikuti metode Ahmad Mansyur Suryanegara untuk membedakan corak suatu kerajaan), didirikan oleh ulama agung sekaligus negarawan besar begitu pun para penggantinya. Jelasnya, Cirebon sejak dahulu kalanya terbentuk oleh iklim religius yang kental dan militan karena prajurit-prajuritnya yang gagah berani dan mahir berperang sering diminta untuk membantu raja-raja lain.

Sebagaimana sebagian yang telah disebutkan dalam tulisan diatas, ternyata keberadaan kerajaan di tanah Sunda sejak Salakanagara dan Tarumanagara tercatat sebagai berikut yang kesemuanya merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Tarumanagara, yaitu:

1. KERAJAAN  SALAKANAGARA
2. KERAJAAN  INDRAPRAHASTA
3. KERAJAAN   KENDAN
4. KERAJAAN  CUPUNAGARA, Di kerajaan ini mengalir sungai Cupu, karena itu kerajaan ini dinamai Cupunagara. Raja yang terkenal dari kerajaan ini bernama Prabu Satyaguna. Sang raja memilik puteri sulung yang menikah dengan Cakrawarman (adik Maharaja Purnawarman yang menjadi pemberontak di masa kekuasaan Wisnuwarman / raja Tarumanagara ke-4). Dalam peristiwa pemberontakan yang dilakukan menantunya ini, Prabu Satyaguna dihadapkan pilihan yang dilematis. Saat komplotan Cakrawarman terdesak oleh pasukan Tarumanagara dan kemudian bersembunyi di sebuah hutan wilayah Cupunagara, Prabu Satyaguna sebenarnya ingin memberikan bantuan kepada sang menantu. Apalagi saat itu, Cakrawarman dengan tegas memohon pertolongan serta meminta izin kepada Prabu Satyaguna untuk mendirikan kerajaan baru di wilayah Cupunagara, sebagai kerajaan tandingan dari Tarumanagara. Tetapi, Prabu Satyaguna tidak bisa mengabulkan permohonan itu karena merasa takut oleh kebesaran Tarumangara, disamping itu dua orang anaknya yang lain memiliki hubungan kerja dan kekerabatan dengan Tarumanagara (puterinya yang ke-2 menikah dengan seorang menteri Tarumangara, sedangkan puteranya yang ke-3 menjadi senapati angkatan laut Tarumanagara). Dengan perasaan bimbang, akhirnya Prabu Satyaguna memutuskan untuk memberikan pertolongan dalam bentuk pemberian perbekalan dan senjata, tetapi dengan syarat Cakrawarman harus meninggalkan wilayah kerajaan Cupunagara. (cerita selengkapnya mengenai pemberontakan Cakrawarman telah dibahas pada bab Tarumanagara, sub-Wisnuwarman). Perkembangan selanjutnya dari kerajaan ini, terjadi setelah diperintah oleh Nagajaya. Tokoh ini kemudian menikah dengan Mayasari (putri raja Taurmanagara ke-10). Setelah mertuanya dibunuh, Nagajaya berhasil menewaskan sang pembunuh raja tarumanagara itu melalui perkelahian yang sengit. Karena ikatan pernikahan dan jasanya yang besar bagi Tarumangara, maka dia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. Setelah Nagajaya menjadi raja Tarumanagara, tahta kerajaan Cupunagara diserahkan pada adiknya yang bernama Jayaguna.
5. KERAJAAN   NUSA  SABAY, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Sagarantaka. Tokoh ini merupakan seorang Kesatria dari Kerajaan Nusa Sabay yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.
6. KERAJAAN  PURWANAGARA, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Tegalaksana. Tokoh ini merupakan seorang menteri Purwanagara yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.    
7. KERAJAAN  UJUNG KULON
8. KERAJAAN  GUNUNG  KIDUL, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Jayagiri. Tokoh ini merupakan putra mahkota yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.
9. KERAJAAN  PURWALINGGA, Lokasi kerajaan ini berada di kota Purbalingga, Jawa Tengah  (sekarang). Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Surayuda. Tokoh ini merupakan seorang tumenggung Purwalingga yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.
10. KERAJAAN  AGRABINTA, Kerajaan ini merupakan kerajaan yang setia terhadap kedaulatan yang ada di Tarumanagara. Wujud kesetiaanya adalah pengiriman pasukan bantuan untuk Tarumanagara di saat kerajaan “induk” itu mengalami pemberontakan Cakrawarman. Pengiriman bala bantuan ini kemungkinan dilakukan karena Kerajaan Agrabinta merasa malu kepada Tarumanagara setelah salah seorang menteri-nya yang bernama Purnawangi menjadi “antek-antek” Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.
11. KERAJAAN  GUNUNG  MANIK, Disebut juga Kerajaan Manikparwata.
12. KERAJAAN  SABARA, Kerajaan ini juga merupakan kerajaan yang setia terhadap Tarumanagara. Sama halnya seperti Kerajaan Agrabinta, wujud kesetiaanya itu diperlihatkan dengan mengirimkan pasukan bantuan untuk bergabung dengan pasukan inti Tarumanagara dalam usaha menumpas pemberontakan Cakrawarman. Namun, tidak semua dari pembesar kerajaan ini yang setia pada Tarumanagara. Sejarah mencatat, seorang Panglima dari kerajaan ini yang bernama Jayagana, ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara. Sungguh ironis memang, di satu sisi Sabara ikut menumpas pemberontakan Cakrawarman, tetapi di sisi lain salah seorang panglima-nya malah mendukung pemberontakan Cakrawarman.
13. KERAJAAN  BUMI  SAGANDU, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama  dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.
14. KERAJAAN  LEGON, Seperti kebanyakan kerajaan bawahan Tarumanagara lainnya. Kerajaan Legon juga sangat setia terhadap Tarumanagara. Pasukan dari Legon yang bisa diandalkan, ikut berperan serta dalam menumpas pemberontakan Cakrawarman.
15. KERAJAAN  MANUKRAWA, Berdiri sekitar abad ke-4, berlokasi di tepi sungai Sarasah / Manukrawa (sekarang bernama Cimanuk). Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara saat berhasil menumpas pemberontakan Cakrawarman. Pasukan Kerajaan Manukrawa dipimpin oleh Welutbraja, bergabung dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya melalui jalur sungai untuk menggempur komplotan Cakrawarman yang saat itu berada di Girinata. (cerita selengkapnya mengenai pemberontakan Cakrawarman dibahas pada bab Tarumanagara, sub-Wisnuwarman). Diduga akibat terjadi musibah banjir bandang sungai Cimanuk, kerajaan ini berakhir riwayatnya dan kembali menjadi hutan belantara (sebelum Aria Wiralodra yang mendirikan Darma Ayu datang ke wilayah ini – lihat Darma Ayu).
16. KERAJAAN  MALABAR, Kerajaan ini berlokasi di kaki Gunung Malabar (sekarang wilayah Bandung Selatan). Raja yang terkenal dari kerajaan ini adalah Wisnubumi. Raja ini memiliki seorang puteri yang bernama Citra Kirana, puteri ini kemudian menikah dengan Wiryabanyu (raja Indraprahasta ke-3).
17. KERAJAAN  SINDANG  JERO, Kerajaan ini turut berjasa dalam membantu Tarumangara mengatasi pemberontakan Cakrawarman. Pasukan Kerajaan Sindang Jero pimpinan Panglima Pasukan Darat yang bernama Bonggol Bumi, bergabung dengan pasukan gabungan kerajaan bawahan Tarumanagara lainnya untuk menyerang Cakrawarman dan pengikutnya yang bemarkas di Girinata.
18. KERAJAAN WANAGIRI
19. KERAJAAN  GALUH WETAN atau Disebut juga Kerajaan Purwagaluh.
20. KERAJAAN  GUNUNG  KUBANG atau Disebut juga Kerajaan Kubanggiri.
21. KERAJAAN  GUNUNG  BITUNG atau Disebut juga Kerajaan Bitunggiri.
22. KERAJAAN  SUNDA  SEMBAWA, Kata “Sembawa” dari nama kerajaan ini berarti awal atau asli. Kelak dari kerajaan ini muncul seorang tokoh yang mendirikan Kerajaan Sunda (tanpa akhiran “sembawa”). Tokoh yang terkenal tersebut bernama Tarusbawa. Asal mula keberadaan Kerajaan Sunda berasal dari cerita bahwa Tarusbawa menikah dengan Dewi Manasih (puteri sulung Linggawarman / raja Tarumanagara). Setelah Linggawarman turun tahta, maka kekuasaan Tarumanagara jatuh pada Tarusbawa. Mulai pada periode kekuasaannya itulah, Tarusbawa mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.
23. KERAJAAN  SINGANAGARA, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama  dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.
24. KERAJAAN  SINDU GUMITA, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama  dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.
25. KERAJAAN  DUA  KALAPA
26. KERAJAAN PASIR  MUHARA
27. KERAJAAN  PASIR  SANGGARUNG
28. KERAJAAN  INDIHIYANG
29. KERAJAAN  KARANG  SINDULANG
30. KERAJAAN  GUNUNG  CUPU
31. KERAJAAN  CANGKUANG
32. KERAJAAN  PURWAKERTA
33. KERAJAAN  PALADU
34. KERAJAAN  KOSALA
35. KERAJAAN  SAGARA  KIDUL
36. KERAJAAN  ALENGKA
37. KERAJAAN  TANJUNG KALAPA
38. KERAJAAN  PAKUAN SUMURWANGI
39. KERAJAAN  KALAPA  GIRANG
40. KERAJAAN  SAGARA  PASIR
41. KERAJAAN  RANGKAS
42. KERAJAAN  PURA DALEM
43. KERAJAAN  LINGGADEWATA
44. KERAJAAN  TANJUNG CAMARA
45. KERAJAAN  WANADATAR
46. KERAJAAN  SETYARAJA
47. KERAJAAN  JATI  AGEUNG
48. KERAJAAN  WANAJATI

Semoga tulisan bermanfaat, mohon masukannya bila ada yang mesti dilengkapi dan dikoreksi sebagai upaya penyempurnaan tulisan kedepannya. Terima kasih

Baca Juga  Mengenal Muhammad Putra Ambari Travel Content Creator asal Lombok
news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

138000161

138000162

138000163

138000164

138000165

138000166

138000167

138000168

138000169

138000170

138000171

138000172

138000173

138000174

138000175

138000176

138000177

138000178

138000179

138000180

138000181

138000182

138000183

138000184

138000185

138000186

138000187

138000188

138000189

138000190

148000196

148000197

148000198

148000199

148000200

148000201

148000202

148000203

148000204

148000205

148000206

148000207

148000208

148000209

148000210

148000211

148000212

148000213

148000214

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

148000215

158000096

158000097

158000098

158000099

158000100

158000101

158000102

158000103

158000104

158000105

158000106

158000107

158000108

158000109

158000110

168000166

168000167

168000168

168000169

168000170

168000171

168000172

168000173

168000174

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

168000175

178000211

178000212

178000213

178000214

178000215

178000216

178000217

178000218

178000219

178000220

178000221

178000222

178000223

178000224

178000225

178000226

178000227

178000228

178000229

178000230

178000231

178000232

178000233

178000234

178000235

178000236

178000237

178000238

178000239

178000240

178000241

178000242

178000243

178000244

178000245

178000246

178000247

178000248

178000249

178000250

188000256

188000257

188000258

188000259

188000260

188000261

188000262

188000263

188000264

188000265

188000266

188000267

188000268

188000269

188000270

188000271

188000272

188000273

188000274

188000275

188000276

188000277

188000278

188000279

188000280

188000281

188000282

188000283

188000284

188000285

198000161

198000162

198000163

198000164

198000165

198000166

198000167

198000168

198000169

198000170

198000171

198000172

198000173

198000174

198000175

198000176

198000177

198000178

198000179

198000180

198000181

198000182

198000183

198000184

198000185

198000186

198000187

198000188

198000189

198000190

218000081

218000082

218000083

218000084

218000085

218000086

218000087

218000088

218000089

218000090

218000091

218000092

218000093

218000094

218000095

218000096

218000097

218000098

218000099

218000100

228000051

228000052

228000053

228000054

228000055

228000056

228000057

228000058

228000059

228000060

228000061

228000062

228000063

228000064

228000065

228000066

228000067

228000068

228000069

228000070

228000071

228000072

228000073

228000074

228000075

228000076

228000077

228000078

228000079

228000080

238000176

238000177

238000178

238000179

238000180

238000181

238000182

238000183

238000184

238000185

238000186

238000187

238000188

238000189

238000190

238000191

238000192

238000193

238000194

238000195

238000196

238000197

238000198

238000199

238000200

238000201

238000202

238000203

238000204

238000205

208000001

208000002

208000003

208000004

208000005

208000006

208000007

208000008

208000009

208000010

208000011

208000012

208000013

208000014

208000015

208000016

208000017

208000018

208000019

208000020

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

118000230

news-1701