Kab. Garut (WP),- Pesta rakyat yang digelar sebagai bentuk syukur atas pernikahan Wakil Bupati Garut dengan Maul, putra dari KDM Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat), pada 18 Juli 2025, berubah menjadi duka mendalam. Tiga warga Garut, termasuk seorang anggota Polri, meninggal dunia, dan belasan lainnya harus mendapatkan perawatan medis akibat insiden kerumunan yang tak terkendali.
Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG), Irwan Hendarsyah, SE, atau yang akrab disapa Kang Jiwan, menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya yang mendalam atas tragedi tersebut.
“Saya turut berbelasungkawa dan berduka cita sedalam-dalamnya. Atas Musibah ini sungguh menyayat hati, apalagi terjadi di tengah momen kebahagiaan rakyat yang seharusnya menjadi perayaan,”( Abdi ngiring belasungkawa, tina musibah di antawis kabingah rakyat nu keudah na jadi sukuran, mugi kulawargi anu ditinggalkeun dipasihan kasabaran )” ujar Kang Jiwan saat dimintai tanggapan, Minggu (20/7/2025).
Menurutnya, meskipun berbagai persiapan telah dilakukan dengan matang, tak ada manusia yang mampu menandingi kehendak ilahi
“Ini sudah kehendak Sang Khalik. Sesempurna apapun perencanaan manusia tetaplah Tuhan yang maha sempurna manusia hanya sekedar berusaha, , jika sudah menjadi takdir, tidak ada yang bisa menghindarinya,” ungkapnya lirih.
Namun demikian, Kang Jiwan juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan acara. Ia menyoroti kelalaian yang mungkin terjadi dalam pengelolaan kerumunan.
“Kebahagiaan adalah harapan, tapi musibah tetaplah sebuah kenyataan. Harus ada yang bertanggung jawab. Ini menyangkut nyawa. Jangan sampai tragedi ini terulang kembali,” tegasnya.
Kang Jiwan meminta agar pihak penyelenggara, terutama event organizer, melakukan introspeksi dan evaluasi menyeluruh terhadap setiap aspek teknis dan potensi risiko yang mungkin timbul dalam penyelenggaraan acara berskala besar.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Wakil Bupati Garut Teh Putri, Maula, dan KDM Dedi Mulyadi yang dengan sigap mendatangi rumah para korban sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral.
“Tindakan cepat dan empati dari para pemimpin ini adalah teladan. Mereka menunjukkan nilai luhur budaya Sunda, yaitu berempati, sigap, dan berbudi pekerti dalam menghadapi duka,” tambahnya.
Kang Jiwan mengutip filosofi Sunda, “Sangkan tarapti, jalankeun tali paranti,” yang bermakna menjalankan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai adat dan norma luhur yang diwariskan para karuhun (leluhur). Dan mengingatkan mengajak kembali untuk menerapkan pepatah Sunda tentang tali paranti sebagai bentuk adat istiadat atau tradisi saling menghargai pada semua aspek kehidupan pada alam. Dalam konteks musibah ini, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peristiwa tragis tersebut sebagai bahan renungan.
“Setiap kejadian pasti mengandung hikmah. Mari jadikan ini sebagai pelajaran dan pengingat bahwa dalam kebahagiaan pun, kita tak boleh lalai terhadap aspek keselamatan dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Pihak keluarga korban, hingga kini masih dalam kondisi berduka. Doa dan simpati terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dari komunitas budaya Garut.
Rep. Hendra















