Garut, wartapasundan.com -Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang di besut pemerintah untuk menjadi motor usaha Desa guna memicu pertumbuhan ekonomi warga.
Kendati Demikian, sejak dihimbau dan diatur tahun 2016. Keberadaan BUMDES yang dimiliki Desa disejumlah wilayah tak bisa bertahan lama. Mayoritas bangkrut tanpa hasil hanya buang anggaran yang dimodali Dana Desa.
Ironisnya, program ketahanan pangan yang kini jadi skala prioritas pemerintah tersebut terindikasi menyimpang tanpa hasil dan buang anggaran percuma. Assi itu mencuat atas tata kelola BUMDES Talaga Mekar, Desa Talagasari Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut.
Bagaimana tidak prosedur pemilihan, penetapan pengurus BUMDES talaga mekar diduga dipaksakan. Dibentuk asal asalan penuh rekayasa dan sarat kepentingan pribadi.
Orang nomor satu di Desa Talagasari, DR Riki Ismail Barokah sebagai Kepala Desa serta komisaris di BUMDES dinilai gegabah dalam jalankan program ketahanan pangan. Pemilihan dan penetapan pengurus yang diduga tak jelas jadi pematik kisruhnya pengelolaan usah ayam petelor dinilai tak produktif bahkan diprediksi akan gulung tikar.
Keluhan yang disampaikan Ketua BUMDES Talaga Mekar, Dindin mengaku menyesal mau ditunjuk oleh Kades jadi ketua. Padahal dirinya tidak faham tentang ternak ayam. Selain sedang sakit Dindin juga tercatat sebagai guru honor sertifikasi. Akhirnya tidak mau kena getahnya Dindin sebut sudah mundur dari BUMDES.
Padahal diungkapkan Dindin, Dirinya juga masih berprofesi jadi tenaga pendidik (Guru) pada salah Satu Sekolah menengah dan dirinya sudah sertifikasi.
”Saya di minta bantuan Pak Kades jadi Ketua BUMDES. Meski saya terus terang tidak ngerti berternak ayam. Saya juga punya kesibukan mengajar di SMP” ungkap Dindin.
Merasa tidak sanggup jadi ketua BUMDES karena mengidap penyakit, dan tak siap jika timbul masalah. Pasti saya yang jadi korban” ungkap Dia.
Sementara diketahui pengelolaan anggaran DD di Desa Talagasari kucurkan penyertaan modal BUMDES sekurangnya 280 juta untuk peternakan ayam petelor. Berlokasi kandang di Kp.Citangtu.
Selain struktur kepengurusan BUMDES dinilai diatur Kades, produktifitas ayam sejumlah 2000 ekor, dikabarkan hanya hasilkan 70 Kg telor.
Program ketahan pangan Desa itu terapkan untuk kegiatan usaha ternak ayam petelor sekurangnya 2000 Ekor.
Pantauan di lokasi Kandang ayam yang kabarnya di sewa BUMDES talaga mekar dari seseorang senilai 35 juta dengan mekanisme kontrak diduga tidak jelas.
Terlebih pengelolaan ayam yang di urus oleh orang kepercayaan Kades, bukan pengurus BUMDES. banyak pihak prediksi tidak akan bertahan lama, terancam bangkrut.
”Sudah hampir 7 Bulan kegiatan ternak ayam petelor itu berlangsung. Sejauh ini belum terdengar atau dilaporkan ada keuntungan. Selalu saja tekor oleh pakan dengan kapasitas telor cuma 70Kg/Hari. Hal itu jadi indikator tata kelola nya ga bener. Jika dibiarkan dalam waktu dekat usaha itu terancam bangkrut” tutur warga
Disisi lain pasca mencuatnya pengurus BUMDES yang diakui non prosedural dan hanya tulis punggung oleh Kades motifnya diasumsikan program ketahanan pangan dianggap main-main, kendati telan anggaran nyaris 300 juta.
Bahkan informasi yang disampaikan Sekretaris Desa Talagasari, Irvan saat diminta konfirmasi, menyebutkan pengurus Bumdes sudah dirombak.
”Kepengurusan BUMDES talaga mekar sudah dirombak. Hasil kesepakatannya Kembali menjadi Direktur, Rikeu yang dulu sempat menjabat di BUMDES” ucap Sekdes.
Pembentukan kepengurusan BUMDES yang konon baru dibentuk usai ramai media online publish BUMDES Talagasari. Hanya saja struktur kepengurusan dengan Direktur dijabat Rikeu yang notabenenya Kakak Kandung Kades, tidak kah akan jadi langgar regulasi? Juga simalakama bagi Kades. persepsi negatif dimasyarakat dipastikan muncul sama halnya saat Rikeu Raup untung jadi agen BPNT?
*** Her
Sengkarut Tata Kelola BUMDES Talaga Mekar Garut Tuai Polemik, Kebijakan Kades Dituding Sarat Nepotisme












