KARAWANG, WP – Standar pelayanan kesehatan di RSUD Jatisari, Kabupaten Karawang, kembali menuai kritik tajam. Kali ini, dugaan malapraktik administrasi dan pengabaian pasien menimpa Dania Oktaviani (15), putri dari Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Banyusari, Dadang, pada Kamis (16/4/2026).
Insiden ini memicu keprihatinan mendalam mengenai bagaimana fasilitas kesehatan milik pemerintah menangani situasi kritis.
Niat keluarga membawa Dania ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk mendapatkan pertolongan medis justru berbuah kekecewaan. Bukannya segera dilakukan tindakan triage (pemeriksaan awal untuk menentukan tingkat kegawatdaruratan), keluarga justru langsung dihadang dengan pernyataan bahwa ruangan telah penuh.
Dadang, selaku orang tua pasien, mengecam keras sikap apatis tenaga medis yang bertugas. Ia menekankan bahwa poin keberatannya bukan pada kapasitas tempat tidur, melainkan pada hilangnya rasa kemanusiaan dan etika profesi.
“Tolong manusiakan manusia. Kalaupun penuh, lakukan penanganan awal dulu di IGD, jangan hanya diam. Dokter di sana sama sekali tidak merespons maupun memeriksa anak saya,” ungkap Dadang.
Secara regulasi medis, setiap pasien yang masuk ke IGD wajib mendapatkan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga untuk memastikan stabilitas kondisinya. Menolak pasien sebelum ada pemeriksaan awal merupakan pelanggaran serius terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO) rumah sakit.
Stabilitas Pasien: Dokter jaga wajib memastikan pasien stabil sebelum diarahkan untuk rawat inap, dirujuk, atau dipulangkan.
Sistem Rujukan (Sisrute): Jika RSUD Jatisari memang tidak mampu menampung, pihak RS berkewajiban mencarikan rumah sakit rujukan melalui sistem terintegrasi, bukan membiarkan pasien tanpa kepastian.
Kasus yang menimpa keluarga tokoh sosial ini seolah menjadi puncak gunung es dari permasalahan pelayanan publik di Karawang. Dadang secara terbuka meminta Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, untuk turun tangan mengevaluasi total manajemen RSUD Jatisari.
“Kami butuh aksi nyata. Jangan sampai jargon ‘pelayanan prima’ hanya menjadi hiasan, sementara masyarakat kecil terkatung-katung di depan pintu rumah sakit pemerintah,” tegasnya.
Hingga saat ini, redaksi masih berupaya mendapatkan klarifikasi resmi dari manajemen RSUD Jatisari terkait insiden dugaan pembiaran pasien tersebut.
Rep. Nuraeni Tim














