KAB. GARUT (WP), – Di sudut sebuah ruangan sederhana, tangan-tangan terampil kang Ujang Latif yang akrab disapa Kang Ujang mengubah sebongkah kayu biasa menjadi karya seni yang bercerita. Pria asal Garut ini dikenal sebagai ahli seni pahat yang setia melestarikan budaya melalui goresan pahatnya. Selasa 19/5/2026
Dari karya yang beredar, terlihat dua hasil tangan dingin Kang Ujang yang memikat perhatian. Pertama, patung dada dengan tulisan _“CUENYAK DIHEN”_ yang sebenarnya adalah penggambaran *Cut Nyak Dhien*, pahlawan perempuan Aceh.
Meski ejaan pada dudukan kayu sedikit berbeda, detail wajah dan ekspresi tenang sang pahlawan berhasil ditangkap dengan apik.
Karya kedua adalah patung utuh seorang perempuan bersenjata panah, berpakaian adat. Karya ini bahkan mendapat apresiasi dengan lencana _#1_, tanda pengakuan atas kualitas dan ketelitian pengerjaannya.
Finishing mengkilap dan proporsi tubuh yang presisi menunjukkan pengalaman panjang Kang Ujang dalam dunia ukir kayu. Belajar Otodidak, Berkarya untuk Bangsa Kang Ujang bukan lulusan sekolah seni. Ia belajar otodidak dan mengasah kemampuan sejak muda, mewarisi kecintaan pada seni pahat dari lingkungan sekitarnya.
Baginya, setiap kayu memiliki karakter dan tugasnya adalah “membaca” karakter itu lalu mengeluarkannya menjadi bentuk yang hidup. “Saya tidak mengejar cepat. Yang penting hasilnya bisa berbicara. Orang lihat langsung tahu ini siapa, apa ceritanya,” ujar Kang Ujang saat ditemui di bengkelnya. Menjaga Warisan di Tengah Zaman Modern Di era serba digital dan mesin, profesi perajin ukir manual semakin langka. Anak muda lebih memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih praktis.
Namun Kang Ujang tetap bertahan. Baginya, seni pahat bukan sekadar pekerjaan, tapi cara menjaga identitas dan sejarah bangsa agar tidak terlupakan. Ia berharap ada lebih banyak dukungan untuk perajin lokal, baik dari pemerintah maupun masyarakat. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Ini warisan, harus diteruskan,” katanya.
Kini, karya-karya Kang Ujang tidak hanya menghiasi rumah warga Garut, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat pahlawan dan budaya Sunda bisa hidup kembali lewat sentuhan pahat di atas kayu.
Rep: Adas Iskandar















